Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Kelemahan Filsafat Moral Immanuel Kant

Setelah menuliskan sedikit tentang filsafat moral Immanuel Kant yang menekankan berbuat kewajiban haruslah demi kewajiban itu sendiri, maka sekarang saya juga akan mengemukakan kelemahan filsafat moral Immanuel Kant.

kant photo treeApa yang dimaksud universal menurut Kant? Dalam filsafatnya Kant berargumen bahwa kewajiban itu bermoral (baik) jika kewajiban itu apabila dilakukan oleh orang lain juga akan bernilai baik. Dengan contoh kecil, ketika saya melihat ada orang yang sedang dipukuli maka saya wajib untuk melerai, mengapa ini wajib? Hal ini dikarenakan orang lain juga menyadari bahwa melerai perkelahian adalah hal yang baik, inilah titik tolak pertama. Kedua, jika kita dalam keadaan dipukuli kita akan dengan senang hati menerima bantuan dari orang lain yang membela kita. Maka dengan itu kita wajib untuk melerai perkelahian tersebut. Tetapi ingat sekali lagi bahwa Kant tidak berpikir bahwa ini adalah perbuatan yang dilakukan karena kecenderungan atau kasihan melainkan karena kewajiban tersendiri. Inilah prinsip yang dapat diterima oleh kita dan orang lain bahwa wajib hukumnya untuk melerai perkelahian. Ilustrasi yang saya gambarkan adalah alasan (kalimat warna merah) yang berada dibalik rasio, tidak terpikirkan, tidak tersadari dinamakan oleh Kant sebagai Akal Budi.

Dari contoh di atas sudah kelihatan jelas bahwa filsafat moral Immanuel Kant memang baik. Namun, kejadian di atas hanyalah terjadi dalam lingkup yang sangat kecil, sehingga Universalitas moralnya memang seperti itu. Lalu bagaimana dengan lingkup yang lebih besar misalnya dalam peperangan? STOP! Sebelumnya saya mengutip dulu dari halaman 151 dari bukunya Franz Magnis-Suseno yang berjudul 13 Tokoh Etika

Lepas dari argumentasi Kant yang cukup ruwet, dan agar maksud Kant menjadi lebih jelas, ada baiknya kita sekedar merefleksikan kewajaran posisi Kant. Atau lebih tepat, merefleksikan bahwa, sebaliknya, tidak wajar manusia menaati hukum atau peraturan apa pun yang prinsipnya tidak dapat diakuinya sendiri. Bisa saja saya menganggap suatu peraturan lalu lintas salah, atau bodoh, atau tidak perlu. Namun, bahwa negara harus menetapkan peraturan lalu lintas yang berlaku bagi semua, bahwa tidak mungkin negara bertanya kepada segenap warga negara dulu apakah ia keberatan atau tidak, dan bahwa oleh karena itu wajarlah ada peraturan lalu lintas dan wajarlah kita mau tak mau menaatinya, itu semua dapat kita setujui.

morality conflict at warNamun dalam peperangan mana yang benar? Pada perang dunia ke-2 semua merasa melakukan tindakan yang benar. Seorang yang berpaham Nasionalsozialismus atau yang dikenal sebagai Nazisme juga memiliki paham dasar fasisme yang percaya bahwa negara atau ras yang berada dalam konflik, hanya yang kuatlah yang dapat selamat (survive) dengan kekuatan, kevitalan, dan dengan cara melampaui yang lemah. Pertanyaannya di mana universalitas moral jika semua orang menerapkan fasisme alih-alih ingin selamat? Yang ada semuanya akan saling bunuh, dikarenakan sudah tertanam dalam-dalam bahwa memang saling bunuhlah jalan moral terbaik demi mempertahankan hidup. Oleh karenanya di sini diperlukan metafisika tentang moral yang mengarahkan kepada apa yang sesungguhnya baik. Berikut ini poin kelemahan Filsafat Moral Immanuel Kant:

  • Jika dibandingkan dengan persoalan lalu lintas tadi, masalah peperangan tentu merupakan masalah moral yang paling krusial di atas bumi ini dan masih ada persoalan pelik setelahnya. Untuk masalah kewajiban setara seperti persoalan perkelahian, lalu lintas, atau membayar pajak, bisalah filsafat moral Kant berfungsi dengan baik, tetapi untuk menyelesaikan persoalan seperti peperangan tentu persoalan kewajiban demi kewajiban akan menjebak orang dalam formalitas sehingga tidak ada penyelesaian. Seharusnya ada tindakan universal kewajiban lain yang dapat melawan paham kewajiban lainnya (contoh: fasisme). Jadi kewajiban di sini saling dilawankan dengan kewajiban yang lebih besar, nah Kant tampaknya tidak sampai di sini.
  • Jika membandingkan “orang yang ingin hidup bahagia” dengan “orang yang selalu melakukan kewajiban” tentu lebih menyebalkan orang yang selalu melakukan kewajiban! Ia tidak mengenal toleransi, ia tidak bisa dibujuk, ia tidak mengenal canda tawa, ia tidak menyenangkan, dan kaku. Berbeda dengan orang yang ingin hidup bahagia, Ia bisa lebih sadis tapi bisa lebih mulia, ia memiliki keunikan tersendiri dalam menjalani hidupnya, ia memiliki karakteristik yang menjadikan masing-masing orang menjadi plural, indah, dan tidak kaku.
  • Dalam masyarakat berbudaya seperti Indonesia tampaknya tidak cocok menerapkan kewajiban seperti yang diinginkan oleh Kant dikarenakan dinamika masyarakat yang begitu kuat dan memiliki konsepsi berbeda-beda tentang kewajiban, tergantung dari kepercayaan dan adat masyarakat tersebut.

Dengan ini telah saya paparkan kelemahan yang saya lihat dari filsafat moral Immanuel Kant, apabila ada kesalahan pemahaman saya siap menerima kritik yang membangun πŸ˜€

Artikel di atas memiliki 15 tanggapan. Klik tombol berikut untuk membuka form tanggapan.

* Wajib diisi.

  • fanny
    pukul 03:05

    gak ada kritik kok atas tulisanmu, Lin. (eh, saya panggilnya Lin aja? tapi kok, kyk cewek ya? April? ato apa nih?). kenapa gak ada kritik? krn saya gak ngerti filsafat walau dulu pernah dpt pelajaran filsafat ilmu dan filsafat hukum wkt kuliah. yaah..dah lupa semua.

    btw, thanks ya utk tips naikin pr. padahal blog cerpenis itu pernah ditolak wkt daftar adsense lho. hehehe. wkt itu sih baru 1 bulan bikin blog.

    • aprillins
      pukul 03:29

      lah itu kritiknya 3 poin di atas.. heeheheh.. iya lins aja panggilannya.. heuehueh..

    • Seti@wan Dirgant@Ra
      pukul 08:44

      Lins,… namanya jadi keren kedengarannya…

    • aprillins
      pukul 08:52

      heheheh terima kasih pak iwan.. selamat sore juga πŸ™‚

  • yanuar catur
    pukul 09:19

    filsafat yah?
    ehm,, kayaknya aku masih kurang paham dech
    hehehehhe
    piss

  • Pujangga
    pukul 18:38

    Saya sangat apresiatif dengan pola kritis kamu, Lin….

    Memperbincangkan term moralitas sepertinya memang ruwet dan kadang terjebak pada anomali-anomali yang paradoks. Apakah moralitas itu universal? Apalagi ketika kita bericara moralitas dalam bingkai standarisasi, dan kemudian kita sepakat bahwa konsep standarisasi akan mengisolir standar-standar yang lain. Maka yang terjadi adalah rangkaian labirin dan aporia.

    Salam akrab….

  • attayaya
    pukul 10:51

    semua mengajarkan untuk bermoral baik

  • ajeng
    pukul 01:34

    Sudah 2 kali baca tetep saja sulit ‘nyantol’kan tulisan ini diotakku.. Dasar dudut dech.. Ringkasnya apa Prils..? πŸ˜†

  • azma
    pukul 14:30

    manggilnya apa ni enk’y ???
    mas, om, tante, ato kakak ??, he he he.

    mau tnya ni .
    Filsafat yang dipelajari Kant sewaktu menjdi mahasiswa adalah filsafat Leibniz dan Wolff yang sangat rasionalistis, dogmatis, dan spekulatif. Tetapi Kant menolak pola pikir ini.

    bsa jlasin ndak gmn pmahaman filsafat Leibniz dan Wolff. ????
    bleh request ndak ,, jwaban’y krim k email qu aj.
    thanks b4 .
    πŸ˜‰ πŸ˜† 😐

  • descartes
    pukul 11:18

    ada yang mengatakan untuk belajar filsafat harus paham dulu alur pikiran imanuel kant , artinya filsafat kant pondasi dari filsafat berikutnya…selamat mendalami ….

  • suli
    pukul 17:28

    Untuk Kritik yang pertama manggut dech, tapi yang kedua n yang ketiga mungkin perlu di perjelas, arahnya kemana??

  • axes
    pukul 13:43

    Saya apresiasi kritik moral kant yang Saudara/i paparkan.
    Namun menurut saya, jika melihat etika kant hanya sebagai etika kewajiban, maka filsafat kant tentang etika akan tereduksi.
    Mengapa? Karena filsafat etika kant didasarkan pada imperatif kategoris yang ada di akal budi praktis. Jadi pada dasarnya menurut kant semua manusia itu berkecenderungan untuk berbuat baik. Dan imperatif kategoris ini juga muncul karena beberapa maksim/kaidah. Yaitu berbuat secara universal (contoh: saya tidak membunuh karena saya tidak ingin dibunuh begitupun orang lain). Dan maksim selanjutnya adalah menganggap orang lain sebagai diri mereka atau dengan kata lain kita tidak memanfaatkan oranh lain. Nah dengan maksim itulah imperatif kategoris atau kata hati didasarkan.

    Mungkin gitu :v