Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Falsifikasionisme (4) – Problema Verifikasi Penerapan Teori

Dengan mengambil sampel seseorang bisa mengurangi waktu dan dana yang diperlukan dalam sebuah penelitian. Dan ilmuan maupun pemberi donor akan senang. Namun sampai tahap apa sebuah sampel akan dianggap valid. Kita sering melihat dalam televisi, “sembilan dari sepuluh wanita indonesia mengalami X”. Kita bisa bertanya berapa jumlah sampelnya. Darimana sampel diambil. Berapa kemungkinan error. Dan lain sebagainya. Tapi sampai berapa kemungkinan sampel bisa mewakili keseluruhan.

Problema dalam induksi ini sangat vital karena bisa mencapai tingkat yang sangat muskhil. Memang dalam penelitian yang mewakili ribuan dan jutaan kita bisa meragukan hasilnya. Bahwa peneliti walaupun dia sudah sangat jujur, hasil penelitiannya bisa salah seratus delapanpuluh derajat dari keadaan yang sebenarnya. Namun masalahnya tidak berasal dari sampel mewakili jutaan dan ribuan, problema ini sudah ada dari dasar induksi sendiri.

Teori yang Belum Tentu Cocok Bagi Sebagian

Dalam jumlah sampel berapapun, misalnya dalam sampel yang sangat akurat dalam percobaan yang sangat ketat, 10 banding satu misalnya. Atau bisa kita tarik pada taraf penelitian kita ambil sampel ke dalam keakuratan yang seharusnya ekstrim misalnya percobaan yang melibatkan 10 objek penelitian diambil sampel 9 maka ada kemungkinan bahwa teori yang dikembangkan salah. Misal seorang peneliti mengambil sembilan dari sepuluh ekor angsa yang ada untuk menguji teori “Semua angsa itu putih.” Masih ada kemungkinan bagaimanapun bahwa angsa yang kesepuluh adalah angsa hitam.

Karena itulah dalam sebuah verifikasi tidak lagi kita bisa membenarkan suatu pernyataan bahwa kepastian kebenaran ilmu itu mutlak. Kita mengukur derajat validitasnya untuk menunjukkan kepastian dari sebuah teori. Memang dalam derajat kepastian ini bisa lebih tinggi dengan hanya menunjuk satu lokasi. Misalnya “Semua angsa di pekarangan budi putih.” Semua angsa di pekarangan budi. Tapi jenis teori ini terbatas dan melawan keuniversalan sebuah teori, ilmu ini memang valid,  tapi banyak permasalahan. Misalnya bagaimana cara teori ini diterapkan di Australia? Juga apabila pekarangan budi seluas beberapa ratus kilometer? Misalnya kita ingin mengetahui jenis Angsa di Amerika maka kita tetap akan kesulitan. Dan lagi ilmu tetap tidak berkembang.

 

 

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.