Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Teori Koherentisme

Sebelum memahami koherentisme kita harus memahami keberadaan problema kemunduran. Problema kemunduran adalah suatu masalah dalam epistemologi yang menyatakan bahwa mengenai kepercayaan seseorang bisa mundur hingga tidak terbatas.

Sebagai contohnya seseorang mempercayai bahwa matahari terbit dari barat, ketika di mana kepercayaannya berasal, dia bisa menjawab dari indra, kenapa dia mempercayai indra dari logika, kenapa dia mempercayai logika karena logika bisa menjelaskan banyak hal di dunia nyata, kenapa dia mempercayai dunia nyata. Akhirnya mundur terus hingga tidak terhingga. Ini membawa kepada paham infinitisme dan skeptisme.

Fundasionalisme adalah suatu paham yang beranggapan bahwa untuk menjustifikasi suatu pernyataan maka seseorang harus menemukan suatu titik di mana tidak diperlukan lagi suatu pembenaran dari kepercayaan. Sayangnya pendapat itu dibantah oleh keberadaan problema di atas. Pendapat ini juga dibantah kaum yang beranggapan problema ini mundur secara tidak terbatas.

Koherentisme juga menentang Fundasionlisme. Mereka juga memberikan solusi bagi masalah mereka tersebut. Koherentisme beranggapan bahwa masalah ini bisa diselesaikan dengan metode koherensi.

Koherentisme biasanya percaya dengan “konsep holisme.” Konsep holisme adalah suatu teori bahwa kepercayaan kita datang secara paket. Untuk mengetahui konsep raja maka kita harus tahu konsep krajaan dan kekuasaan. Namun demikian teori konsep holisme tidak memberikan jawaban bagaimana cara memberikan justifikasi dari kepercayaan kita.

Koherentisme memberikan jawaban dari masalah ini dengan prinsip koherensi. Koherentisme percaya bahwa 1 necessary for a belief to be justified and 2 by itself sufficient for a belief to be justified. Biasanya prinsip ini disebut koherentisme kuat. Ada beberapa jenis yang lebih lemah. Necessity coherentism mengajukan hal yang sama dengan koherentisme kuat, hanya saja diperlukan kondisi lain di luar yang struktural untuk sebuah justifikasi. Jenis lain adalah mereka yang menganggap koherensi sebagai penambah justifikasi bagi kepercayaan, jenis yang terakhir ini sangat lemah karena menganggap justifikasi sebagai tambahan, begitu lemah sehingga sepertinya kurang layak diberi label “Koherentis”.

Sumber Bacaan:

  • http://www.theoryofknowledge.info/coherentism.html
  • http://www.iep.utm.edu/coherent/
  • http://www.ling.rochester.edu/~feldman/philosophy243/07-coherentism.html
  • http://plato.stanford.edu/entries/justep-coherence/

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.