Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Kontekstualisme

Kontekstualisme dalam epistemologis adalah suatu paham dalam filsafat pengetahuan. Paham ini beranggapan bahwa kebenaran dari sebuah pernyataan tergantung dari konteks mana dia dinyatakan. Kontekstualisme dalam pengetahuan merupakan argumen yang baik untuk menghadang argumen skeptis.

Pertama kita harus mengenal mengenai argumen skeptis. Argumen skeptis berpendapat bahwa kita tidak mungkin memiliki pengetahuan di sekeliling kita. Kita ambil saja contohnya pengetahuan bahwa kita memiliki tangan. Pengetahuan ini jelas sekali, bahwa saya melihat tangan saya, saya bisa merasakan ini tangan saya.

Namun demikian Skeptisisme mengajukan argumen Brain In Vat atau Otak dalam wadah. Pernah melihat film The Matrix, dari film itu kita menjadi ragu apakah pengetahuan yang kita dapat mengenai alam sekeliling kita adalah pengetahuan asli ataukah itu hanya suatu simulasi yang dibuat oleh mesin. Teori Brain In Vat atau disingkat BIV adalah teori yang menyatakan bahwa kita tidak pernah yakin bahwa tubuh kita ini asli dan bukan hanya simulasi di komputer. Kita sekarang hanyalah sebuah otak yang mengambang dalam wadah yang tersambung dengan kabel-kabel. Dengan kata lain sebenarnya kita tidak memiliki tubuh. Dari sini ada tiga argumen yang bisa diambil.

  1. Aku tahu bahwa aku memiliki tangan.
  2. Aku tidak tahu apakah aku punya tangan karena aku tidak yakin apakah aku BIV
  3. Aku tidak tahu apakah aku BIV

Ada tiga jenis argumen semacam ini. Skeptisisme menganggap karena kita tidak bisa yakin apakah kita BIV maka kita tidak bisa meyakini apapun. Kontekstualisme beranggapan bahwa pernyataan itu kebenarannya tergantung dari konteksnya. Apakah dengan standar tinggi atau tidak. Jika kita menggunakan standar tinggi dalam pengetahuan kita maka (3) bisa dibenarkan sedangkan (1) salah, jika kita memakai standar rendah maka (1) yang benar dan bukan (3)

Dalam filsafat ilmu, kontekstualisme bisa berarti term teoritis hanya memiliki makna kontekstual. Maksudnya adalah bermakna ketika mereka memainkan peranan dalam sistem deduksi dan konsekuensi yang telah dites secara empiris.

Sumber Bacaan:

  • http://www.iep.utm.edu/contextu/
  • http://www.philosophyprofessor.com/philosophies/contextualism.php

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.