Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Fondasionalisme

Mari sejenak kita kembali ke masalah regress dalam Epistemologi. Sekarang ambil sebuah buku, buku apa saja. Misalnya buku sejarah. Saya bertanya mengenai bagaimana anda bisa mempercayai yang ditulis di sana. Anda membutuhkan penjelasan mengenai bahwa para penulisnya kompeten dan mereka sangat ahli.

Bagaimana anda bisa tahu mereka sangat ahli? Anda bisa mengatakan bahwa anda mengenal salah seorang dan orangnya sangat bisa dipercaya. Saya bertanya bagaimana anda bisa yakin bahwa perbuatan perbuatan itu bisa menyebabkan dia bisa dipercaya. Anda bisa menjelaskannya. Saya bisa terus mengejar anda untuk menjelaskan alasan anda mempercayai kepercayaan.

Untuk menjelaskan suatu kepercayaan itu disebut sebagai justifikasi. Ada suatu masalah dalam Epistemologi. Itu adalah regres dalam justifikasi ini. Justifikasi bisa terus mundur ke arah tidak terhingga dan malah berputar. Saingan dari aliran ini adalah aliran Koherentisme. Dalam koherentisme suatu kepercayaan bisa dirujuk dengan koherensi dari satu kepercayaan ke kepercayaan yang lain. Koherentisme bisa di baca di tulisan lain di blog ini.

Fondasionalisme berpendapat bahwa suatu justifikasi itu mundur sampai tidak terhingga itu tidak masuk akal. Begitu pula dengan pola yang berputar. Dia juga berpendapat bahwa dalam suatu kepercayaan-kepercayaan ini ada suatu kepercayaan yang logis dengan sendirinya. Jenis-jenis kepercayaan yang logis dengan sendirinya ini merupakan dasar dari kepercayaan-kepercayaan yang lainnya. Karena kepercayaan kepada sebuah fondasi dari kepercayaan maka paham ini disebut sebagai Fondasionalisme.

Kepercayaan-kepercayaan ini yang menjadi dasar dari kepercayaan-kepercayaan lainnya adalah sebuah kepercayaan yang sangat berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Ini karena kepercayaan ini tidak membutuhkan justifikasi. Banyak Fondasionalis berkesimpulan bahwa fondasi ini terdapat pada kepercayaan yang subjek langsung bisa mengaksesnya seperti  “aku merasakan sesuatu” atau “1+1=2” yang langsung bisa ditangkap. Fondasionalis ada juga yang mempercayai seseorang bisa langsung menangkap setidaknya beberapa objek fisik dan kepercayaan mengenai objek yang sedang diamati sebagai juga termasuk fondasi.

Sumber Bacaan:

  • http://plato.stanford.edu/entries/justep-foundational/
  • http://www.iscid.org/encyclopedia/Foundationalism

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.