Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Dalam Konteks Apa Tuan Hawking?

Mendengar berita mengenai pernyataan Stephen Hawking dalam wawancaranya dengan Guardian membuat saya tergelitik. Dalam kadar apa Tuan Hawking berbicara, sebagai seorang ilmuwan atau seorang filsuf atau mungkin Imam Ateis. Pernyataan bahwa surga ada atau tidak nampaknya sudah dijadikan pertanyaan ilmiah.

Jika itu pertanyaan ilmiah maka saya boleh bertanya mengenai apakah pertanyaan itu bisa difalsifikasi? Bagaimana itu merupakan pernyataan fakta? Jelas sekali jika pertanyaan surga ada atau tidak bukan pertanyaan ilmiah, karena pertama seseorang harus menjelaskan mengenai definisi surga. Kemudian mendefinisikan bagaimana menelitinya. Maka paling pol itu adalah pertanyaan filsafat khususnya metafisika.

Banyak yang merasa terserang dengan pernyataan Hawking terutama para agamawan. Apalagi pernyataan ini adalah lanjutan pernyataannya sebelumnya yang menyatakan alam semesta tidak butuh Pencipta untuk bisa terjadi. Memang pernyataan ilmuan melawan agama ini tidak langka.

Ketika mereka berbicara demikian masihkah mereka berada pada kadar ilmuan. Saya rasa pernyataan semacam itu dikategorikan sebagai pernyataan filsafat atau kepercayaan. Jelas sekaliĀ  Tuan Hawking memasuki dimensi metafisika. Jika tidak ilmu akan dipenuhi debat panjang semacam itu. Bukan berarti ilmuwan tidak boleh berfilsafat, namun ketika ilmuan melontarkan pernyataan kita seharusnya melihat konteksnya dalam gambar yang lebih luas. Jika pernyataan itu dinyatakan sebagai ilmiah rasanya agak keterlaluan.

Sebagai apa sang ilmuwan ketika berbicara, apakah sebagai Ilmuwan, Agamawan, atau Filsuf. Dari konteks mana kita melihatnya. Jika kita melihat bahwa tuan Hawking telah masuk ke jalur dunia metafisika maka kita akan merasa tenang. Ada teori-teori yang lebih aneh di dunia filsafat dan penuh kenjlimetan. Tentu saja Tuan Hawking akan diuntungkan di gelanggang ini karena pengetahuannya mengenai kosmologi kontemporer.

Penyerang Mr Hawking juga tidak menyerang secara efektif. Mr Hawking punya kepercayaan dan dia punya hak untuk mengungkapkannya. Dia juga punya hak mendukung kepercayaannya dengan pengetahuannya. Memang perlu untuk mengingatkan supaya kita memahami konteks dari pernyataan Mr Hawking. Jika memahami konteksnya maka debat bisa dilakukan di medan yang sama.

Artikel di atas memiliki 4 tanggapan. Klik tombol berikut untuk membuka form tanggapan.

Leave a Reply to Baiq Ismayawati Cancel reply

* Wajib diisi.

  • tomo
    pukul 07:48

    hawking salah satu contoh ilmuwan yg picik. menilai hanya dari yg bisa di indera dan di jangkau sains saja

  • Baiq Ismayawati
    pukul 09:38

    Hawking adalah tipe manusia yang melupakan bahwa Tuhan itu ada, jadi seperti apapun kita memperdebatkan tentang pendapatnya tidak akan ada akhirnya, karena hawking adalah orang yang “mempercayai” kemampuan nalarnya kemudian menganggap bahwa keteraturan alam semesta terjadi karena alam semesta itu sendiri. Hal itu sebenarnya dikarenakan kemampuan berfikirnya yang sangat dia percayai adalah sangat dangkal. maka benar Firman Allah yang mengatakan bahwa sesungguhnya hanya sedikit yang mampu manusia fikirkan…

  • Totti
    pukul 12:42

    Setiap ruang sains harus dibatasi dengan agama, ketika semuanya terasa tak rasional, maka sampai itulah cakupan yang hanya bisa ditelusuri.
    Ketika semua terasa tak rasional, itu merupakan mukjizat, dan mukjizat itu pasti ada.
    Bagaimana bisa seorang Muhammad SAW melakukan perjalanan isra’ dan miraj hanya satu malam, dari masjidil aqsha ke langit ketujuh. sementara dengan pesawat kita menempuh sekitar 10 jam untuk jarak setengah keliling bumi. Bisa dipastikan kecepatan Muhammad SAW pada isra’ miraj melebihi kecepatan pesawat terbang, secara logika, harusnya tubuh muhammad hancur berkeping2 jika bergerak dengan kecepatan yang mungkin bisa –> c = speed of light. Namun itulah kuasa Tuhan, dan di kasus ini sains tidak akan bisa menjelaskan secara presisi. padahal ruang lingkup yang digunakan hanya mengenai Kinematika. Oleh karena itu, ada hal-hal yang menjadi batas kita dalam penelusuran sains, tidak semuanya bisa dijelaskan.

  • Zakaria
    pukul 18:16

    konsep ketuhanan Hawking mungkin lebih merujuk pada Panteisme-nya Spinoza. jadi bukan substansi yang memiliki kepribadian yang merupakan pencipta dan disembah, melainkan bahwa semua yg di alam semesta ini adalah partikel-partikel “Tuhan” yg saling melengkapi. konsep yg mirip pernah dilontarkan oleh Anaximander tentang arche apherion. intinya adalah ada suatu partikel paling hakiki yg tidak bergerak, yg menjadi penggerak semua partikel, dan tidak membutuhkan penggerak (unmoved mover).
    soal apa orang lain mau percaya konsep Tuhan yang mana atau bahkan tidak percaya sama sekali itu merupakan hak individu saja. ini sama saja dengan kebebasan menganut agama dan kepercayaan.

    @tomo, saya pikir ilmuwan dan filsuf zaman sekarang tidak cuma berpedoman pada pengamatan inderawi dan ingatan saja (empiris). bahkan zaman dulu, filsuf seperti Spinoza dan mungkin juga Casanus mengatakan pengamatan inderawi hanya pengukuh kebenaran rasio saja.
    CMIIW.