Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Bagaimana Cara Mengukur Sebuah Penggaris

Science atau nanti boleh saya sebut ilmu, adalah suatu usaha untuk mendapatkan pengetahuan yang akurat, tertata dan memiliki sedikit keraguan. Karena itulah kita memiliki berbagai metode penelitian yang rumit dan penuh dengan alat-alat agar pengukuran bisa dilakukan dengan sangat baik. Terutama dalam pada ilmu-ilmu alam, masalah pengukuran bisa menjadi masalah yang pelik, dan akhirnya pada fisika, pengukurannya jadi begitu rumit sehingga hasil-hasil pengukuran yang mengejutkan bisa dilakukan.

Misalnya saja, pengukuran mengenai kecepatan cahaya, jika anda tanya seorang fisikawan bagaimana sampai mencapai kesimpulan tersebut maka bersiaplah sakit kepala, berbagai jargon akan dilontarkan dan penjelasannya sendiri bisa jadi akan makan waktu beberapa jam kuliah.

Yah, kalau memang fisika semudah itu maka fakultas fisika akan kehabisan murid serta kita tidak perlu menghabiskan dana-dana penelitian kita untuk para fisikawan. Hanya saja seorang filsuf agaknya akan sedikit merasa terganggu karena tidak bisa memahami bagaimana ukuran-ukuran itu bisa dibuat, untuk mempelajarinya sepertinya akan memakan waktu dan tenaga yang banyak banyak. Akhirnya terpaksalah masyarakat awam untuk mengamini saja kepada siapapun yang berada di balik pencacah atom dan mereka yang memahami bagaimana caranya alat itu bekerja.

Alat ukur yang sedikit lebih mudah dipahami berada dalam bidang ilmu humaniora. Metode pengukuran di sini baik kualitatif maupun kuantitatif lebih mudah dipahami karena tidak mengandung berbagai jargon adi duniawi seperti yang dimiliki oleh ahli fisika, atau minimal lebih sedikit. Sayangnya banyak perdebatan di dalamnya karena alat-alat itu tidak sepasti ilmu-ilmu alam. Tentu saja, karena yang dibahas manusia dan bukan benda mati seperti ilmu alam.

Itulah Ilmu, tidak bisa lepas dari sekedar ukuran. Namun kemudian sang filsuf bertanya. Bagaimana mengukur sebuah ukuran? Bagaimana sebuah ukuran bisa dinyatakan sebagai ukuran yang pas.

Misal kau punya penggaris, maka anda memerlukan penggaris untuk menentukan panjang penggaris. Tapi kemudian jika anda melakukan itu maka anda membutuhkan penggaris untuk mengukur penggaris. Penggaris yang kemudian membutuhkan penggaris untuk penggarisnya penggaris. Terus demikian. Tidak akan selesai dan bodoh! Yah, bisa dibilang demikian.

Namun inilah pembicaraan yang dilakukan oleh filsafat ilmu. Memang kedengarannya bodoh pada awalnya, namun jika memikirkan betapa ilmu dapat menjadi kolot dan menganggap dirinya sendiri benar karena dia benar, maka pertanyaan ini tidak akan sebodoh kedengarannya. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Bagaimana sebuah teori dapat menghasilkan senjata mematikan atau menciptakan pembantaian masal macam Eugenik sebaiknya kita tidak tertawa.

Untuk mempertanyakan dasar-dasar ilmu pengetahuan, menggoyangkan dasar-dasarnya dan membangunkannya dari tidur dogmatis. Atau hanya sekedar bermain….

Apapun itu, selamat datang ke filsafat ilmu..

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.