Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Problema Batas-batas: Sejarah (7) Paul R. Thagart

Memang premasalahan demarkasi kadang terlihat seperti masalah yang tanpa solusi. Usaha para filsuf tampak sia-sia karena walaupun sudah diklasifikasi masih saja ada pesudo-sains yang bisa di ferivikasi, falsifikasi dan bisa diperbaiki. Karena itu kriteria-kriteria sebelumnya belum bisa dianggap lengkap menyelesaikan semua problem batas-batas.

Salah seorang yang mencoba memecahkannya adalah Paul R. Thagart. Dia adalah filsuf kebangsaan Kanada yang lahir pada tanggal 28 september 1950. Dia dikenal banyak dipengaruhi filsuf pragmatisme seperti CS Pierce. Dia mencoba mengatasi permasalahan batas-batas ilmu pengetahuan dengan mengajukan dua hukum.

  1. Tidak menjanjikan: Sebuah teori telah menjadi kurang berkembang daripada teori alternatif pada rentang waktu yang panjang serta menemui banyak permasalahan yang tak terselesaikan.
  2. Tidak menggunakan metode ilmiah: Komunitas penganut melakukan sangat sedikit usaha untuk memajukan teori tersebut kepada solusi dari masalah-masalahnya, tidak menunjukkan usaha untuk memperbaiki teori tersebut berhubungan dengan yang lainnya, dan memilih dalam menentukan konfirmasi dan diskonfirmasi.

Thagart kemudian juga mengomentari bahwa sebenarnya sebuah ilmu kadang hanya bisa disebut “tidak menjanjikan” pada awalnya sebelum dia memperoleh status penuh sebagai pseudo-sains. Sebagai contohnya Astrologi yang mana ada abad ketujuhbelas hanya bisa disebut stagnan dibandingkan dengan ilmu fisika. Baru kemudian dianggap pseudosains dibandingkan dengan perkembangan penjelasan-penjelasan alternatif dari ilmu psikologi abad ke enambelas.

Dia juga menjelaskan bahwa teorinya mengenai filsafat ilmu ini dan problema demarkasi tidak boleh diterjemahkan secara sempit sehingga menyebabkan seseorang menjadi tidak peduli lagi dengan adanya penjelasan alternatif. Dia juga tidak menjadikan teorinya diterjemahkan terlalu luas dan menerapkannya pada ilmuan sekarang dan masa depan. Teorinya ini bersifat pragmatis, sekedar ingin membedakan antara ilmu dan pseudosains. Pseudosains dibedakan sebagai sebuah teori yang stagnan dan tidak aktif diteliti secara ilmiah. Perbedaan mendasarnya dari Lakatos adalah bahwa Lakatos menganggap semua yang tidak progresif adalah pseudosains, tidak melihat apakah anggota dari penganutnya berusaha keras untuk memperbaikinya dan menjadikannya progresif.

Sumber Bacaan:

  • http://en.wikipedia.org/wiki/Paul_R._Thagard
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Demarcation_problem
  • http://plato.stanford.edu/entries/pseudo-science/

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.