Direktori Filsafat dan Manajemen

Filsafat dan manajemen jadi satu
Pengertian dan Contoh Radikalisme di Indonesia

Radikalisme berasal dari kata dasar radikal dan isme. Radikal itu sendiri berasal dari bahasa latin radix yang artinya akar. Sedangkan imbuhan isme merupakan kata untuk mengintegrasikan sifat pada sebuah kata kerja. Dengan demikan secara etimologis, radikalisme adalah sesuatu yang bersifat mengakar.

Istilah bersifat mengakar lebih mudah dipahami dengan istilah bersifat mendasar, bersifat fundamental, atau bersifat pada aturan bakunya. Apabila diaplikasikan konteks sosial dan politik, radikalisme dapat diartikan sebagai sifat patuh secara absolut pada aturan dan pemikiran golongan atau kelompok masyarakat tertentu.

Radikalisme tidak dapat disebut radikal jika sama sekali tidak memiliki konflik dengan aturan seluruh kelompok masyarakat. Syarat utama untuk dapat disebut radikal adalah apabila aturan kelompok masyarakat tertentu sangat berbeda dan sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik dengan sebagian besar kelompok masyarakat. Representasi sebagian besar kelompok masyarakat secara de jure adalah negara. Oleh karenanya, radikalisme dalam bentuk apapun merupakan salah satu musuh negara.

Contoh Tindakan Radikalisme

Berikut adalah contoh bentuk radikalisme yang biasanya terjadi dalam kehidupan bernegara.

  • Membuat atau mengadopsi ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara.
  • Mengajak masyarakat untuk mengadopsi ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara.
  • Menyebarkan kebencian terhadap ideologi negara.
  • Memengaruhi masyarakat untuk membuat negara baru.
  • Melakukan reformasi pemerintahan, politik, sosial, budaya, dan ekonomi dengan cara coup d’état atau dengan cara yang tidak sesuai dengan jalur sistem elektoral, politik, dan hukum yang berlaku.
  • Tidak mau mengakui dan selalu menyalahkan ideologi negara.

Namun, radikalisme tidak terbatas pada hal yang telah disebutkan di atas melainkan juga hal lain yang akan dijelaskan pada bagian berikut ini.

Peristiwa Radikalisme

Berdasarkan catatan sejarah, Revolusi Perancis pada tahun 1787-1790 merupakan kejadian yang diidentifikasi sebagai radikalisme pertama dalam sejarah. Namun, penggunaan kata radikalisme sendiri menjadi populer atas peristiwa Perang Sipil di Amerika Serikat pada tahun 1861-1865.

Berdasarkan perspektif peristiwa sejarah di atas, semua radikalisme berujung pada usaha untuk mengganti tatanan pemikiran, rezim, atau pemerintah yang sedang berkuasa. Dari perspektif penguasa atau mayoritas masyarakat, radikalisme tidak akan pernah dipandang bagus sama sekali karena kekuatan penguasa bisa berkurang secara drastis, dan risikonya juga besar bagi masyarakat.

Risiko radikalisme bagi masyarakat yaitu kerusuhan dan hancurnya ekonomi.

Positif dan Negatif Radikalisme

Peristiwa Revolusi Perancis, Perang Sipil di Amerika Serikat, dan Civil Rights movement Martin Luther King Jr. adalah tiga contoh radikalisme yang berakhir dengan efek positif bagi masyarakat. Sedangkan contoh radikalisme yang berakhir dengan efek negatif bagi masyarakat adalah Perang Sipil dan ISIS di Suriah, dan Perang Sipil di berbagai negara Afrika.

Istilah radikalisme sangat erat kaitannya dengan ekstrimisme. Radikalisme ibarat suatu pemikiran, sedangkan ekstrimisme adalah tindakan atas pemikiran tersebut.

Salah satu contoh pemikiran radikal adalah pemikiran bahwa hewan memiliki jiwa, perasaan, dan hak oleh karenanya harus dibela. Para ekstrimis akan melakukan tindakan negatif seperti sabotase ilegal terhadap rumah jagal, atau mengancam membakar supermarket yang menjual daging. Sedangkan non-ekstrimis akan melakukan pendekatan dengan yang lebih halus dan positif seperti musyawarah, dialog, edukasi, dan membuat petisi.

Radikalisme di Indonesia

Menurut survey nasional yang diulas Detik.com pada Januari 2018, ada beberapa organisasi radikal di Indonesia yaitu ISIS, Jamaah Islamiyah Al Qaedah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), DI/NII, JAD, dan Laskar Jihad. Organisasi terseubt dikatakan radikal karena menggunakan kekerasan dalam mewujudkan tujuan. Tidak hanya organisasi berbasis agama, organisasi politik pun bisa menganut radikalisme.

Organisasi politik seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) diklasifikasikan sebagai organisasi radikal oleh Husain Yatmono dalam tulisannya di Republika.co.id. Hal ini karena OPM ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sama pula radikalnya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dahulu hendak mengubah ideologi Pancasila.

Radikalisme Agama Termasuk Radikalisme Berbahaya 

Radikalisme berbasis agama merupakan radikalisme paling berbahaya di Indonesia. Cakupan radikalisme agama itu cakupannya melebihi batas kota, kabupaten, provinsi, pulau, dan negara. Gerakan radikalisme agama tidak seperti OPM atau GAM yang lokasinya terbatas pada wilayah geografistertentu. Radikalisme agama bisa tumbuh di mana saja termasuk dalam keluarga dan institusi. Oleh karenanya, radikalisme agama itu sangat berbahaya.

Tentu kasus radikalisme agama pasti tidak asing di telinga orang Indonesia yang mayoritas muslim ini. Gara-gara pemikiran radikal, ada kasus sekeluarga rela menjual seluruh hartanya untuk jihad ke Suriah. Orang-orang yang menjual seluruh hartanya ini merupakan golongan radikal akut yaitu ekstrimis.

Ekstrimis tidak peduli tentang apa yang akan terjadi nanti baik untuk dirinya maupun keluarganya. Mereka serta merta percaya bahwa mereka melakukan tindakan yang terbaik bagi agama mereka. Padahal multitafsir dalam agama itu ada. Mereka tidak mau membandingkan dan mempelajarinya lebih jauh lagi.

Contohnya, seperti yang dijelaskan Nadirsyah Hosen metode tafsir dalam agama Islam itu terdiri dari dua jenis yaitu tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra’yi. Masing-masing tafsir memiliki turunannya. Tafsir bir riwayah ada dua turunan, sedangkan tafsir bir ra’yi ada tiga turunan. Tidak akan dijelaskan satu persatu karena hal yang ingin ditekankan adalah fakta bahwa orang bisa menafsirkan al-Qur’an dengan berbagai metode tafsir tersebut.

Adanya multitafsir tersebut juga merupakan pemicu radikalisme agama yang dapat memecah belah keluarga harmonis. Baik adik, kakak, anak, ayah, ibu, suami, dan istri dapat terpengaruh radikalisme agama. Satu saja anggota keluarga terpengaruh tafsir yang salah, sudah cukup untuk menghancurkan satu keluarga.

Anak remaja yang terpengaruh radikal pasti membuat orang tua stres dan memarahi anak tersebut. Biasanya, semakin dimarahi anak tersebut semakin terbawa emosi bahwa radikalismenya layak diperjuangkan dan tidak jarang yang lari dari rumah. Itu salah satu sebab saja keluarga harmonis jadi hancur gara-gara radikalisme.

Cara Menangkal Radikalisme

Menanggulangi radikalisme lebih sulit dari pada mencegahnya. Oleh karenanya lebih baik menangkal radikalisme sejak dini daripada menanggulanginya. Cara menangkal radikalisme ada beberapa metode, lima di antaranya  yaitu sebagai berikut.

Menangkal Radikalisme Melalui Keluarga

Zidni (2017) mengemukakan bahwa tugas ayah dan ibu dalam keluarga adalah untuk melakukan kontrol tentang berbagai hal yang dipelajari dan diserap oleh anak. Seorang ayah harus sedini mungkin menanamkan norma Pancasila dan memberi contoh bagaimana aplikasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jika beragama Islam, ayah harus mengajarkan bahwa hormat pada bendera merah putih bukanlah hal syirik.

Ibu harus bisa mengawasi hal-hal yang sedang digemari baik oleh anak maupun lingkungannya. Hal yang harus diawasi contohnya adalah bacaan anak, situs web, dan berbagai kanal yang digemari anak-anak. Ibu juga harus mendampingi anak dalam mempelajari pelajaran yang ditugaskan dari sekolah. Ini wajib karena radikalisme banyak yang sudah masuk dalam institusi termasuk sekolah.

Ibu dan ayah harus bekerja sama, belajar, dan selalu update berita tentang radikalisme agar senantiasa sadar akan ancaman radikalisme jenis baru. Konsultasi dengan pemerintah, sekolah, atau tokoh masyarakat merupakan jalan yang bagus untuk melapor dan menangkal ancaman radikalisme.

Menangkal Radikalisme Melalui Pendidikan

Peran pendidikan dalam menangkal radikalisme sangatlah penting. Pendidikan merupakan scalable system untuk menangkal radikalisme. Pendidikan memiliki infrastruktur seperti departemen pendidikan dan institusi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Infrastruktur tersebutlah yang dapat dimanfaatkan sebagai media dalam mengkomunikasikan berbagai cara agar tidak terpengaruh radikalisme.

Hal praktis yang sudah dikomunikasikan dan diajarkan sejak dulu adalah pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila. Namun sepengalaman pribadi penulis sebagai pelajar dan mahasiswa, pendidikan tersebut tidak  mengena dan sulit dipahami karena di dalamnya hanya berbagai konsep abstrak saja, tidak praktis. Sekarang penulis lebih mengerti makna, aplikasi, dan manfaat pendidikan tersebut.

Sekarang tugas pemerintah adalah mereformasi cara menyampaikan pelajaran kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila agar sesuai dengan daya nalar pelajar pada masing-masing institusi. Pelajaran tersebut juga harus praktis dan aplikatif dalam kehidupan bermasyarakat terlebih dahulu, baru berbangsa dan bernegara.

Menangkal Radikalisme Melalui Komunitas

Mencari komunitas antiradikalisme merupakan permulaan yang tepat dalam menangkal radikalisme. Pendidikan melalui komunitas merupakan jalan praktis dalam memahami contoh dan bentuk radikalisme. Selain itu, melalui komunitas seseorang dapat menemukan dukungan psikologis dan moral agar semangat dalam menangkal radikalisme.

Dalam komunitas seseorang dapat speak up dan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama yaitu memberantas radikalisme. Komunitas itu sendiri, apabila diisi dengan orang yang peduli dengan perkembangan radikalisme, akan memperkaya wawasan dirinya dan anggota di dalamnya.

Melalui komunitas, berbagai informasi tentang radikalisme dan penanggulangannya dapat didistribusikan secara cepat dan praktis. Oleh karenanya, komunitas ini merupakan salah satu kanal yang tepat dalam menangkal radikalisme.

Menangkal Radikalisme Melalui Agama

Agama merupakan salah satu akar radikalisme. Namun, agama pula yang dapat menangkal radikalisme. Hanya saja seseorang harus pintar dalam memilih dan memilah ajaran agama yang tidak bertentangan dengan Pancasila atau dasar negara. Paling tidak orang yang ingin menangkal radikalisme melalui agama harus memahami radikalisme dan agama itu sendiri terlebih dahulu.

Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran. Ambil perspektif  kebenaran dan kebaikan yang dapat diaplikasikan dengan kondisi sosial dan budaya pada masyarakat suatu negara. Apabila ajaran agama tersebut jauh dari nilai-nilai kenegaraan, dalam hal ini Pancasila, maka ajaran agama tersebut merupakan awal dari radikalisme. Ajaran agama ini termasuk ajaran pemuka agama.

Lalu batas agama dan nilai-nilai kenegaraan itu di mana? Yaitu ketika agama tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, tidak mengganggu ketertiban masyarakat, tidak mengganggu ketentraman masyarakat, dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi bangsa. Paling tidak itu sedikit dari batas yang dapat disampaikan di sini.

Menangkal Radikalisme Melalui Badan Intelijen

Badan Intelijen Negara (BIN) sangat penting dalam mencegah tumbuhnya radikalisme di Indonesia. Lembaga ini berkewajiban menangkal berbagai bibit radikalisme yang berpotensi masuk ke dalam pendidikan, agama, komunitas, instansi pemerintah, dan keluarga.

Dari keempat cara menangkal radikalisme sebelumnya, BIN ini dapat berperan untuk menyatukan dan mengorganisasikan berbagai cara menangkal radikalisme melalui keluarga, komunitas, pendidikan, dan agama. Organisasi BIN dapat meletakkan ‘mata’ dan ‘telinga’ di dalam keempat cara tersebut agar cepat mendapatkan sumber informasi tentang radikalisme yang sedang tumbuh. Gunanya agar BIN dapat segera menemukan dan memberantas akar radikalisme.

Organisasi BIN juga dapat memberikan peta tentang radikalisme di Indonesia melalui berbagai seminar dan forum untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat tentang adanya radikalisme.

Referensi

Artikel di atas belum ada komentar. Jadilah komentator petama di artikel ini..

* Wajib diisi.